Demo Menolak Moda Transportasi Berbasis On Line di Stasiun Kota Baru Malang

Senin 20 Febuari 2017, Pagi ini saya seperti biasa nongkrong di taman Trunojoyo, taman yang ada di depan Stasiun Kota Baru Malang. Yang membedakan pagi ini, dengan pagi-pagi yang lain adalah, adanya demo yang dilakukan oleh pengemudi/supir angkutan kota/mikrolet, di sepanjang depan Stasiun Kota Baru ini, bahkan kendaraan mereka ada yang diparkir sampai depan gedung DPRD Kota Malang (karena terlalu banyak jumlahnya).

Untuk demo kali ini, kebanyakan yang mengikuti adalah supir mikrolet juruan GA (Gadang – Arjosari), ADL (Arjosari – Dinoyo – Landungsari), LA (Landungsari – Arjosari) dan AMG (Arjosari – Mergosono – Gadang). Tetapi ada beberapa supir mikrolet yang seharusnya trayeknya melewati jalan ini tetapi memilih untuk tidak ikut berdemo adalah GL (Gadang – Landungsari), LG (Landungsari – Gadang). Untuk supir yang tidak kelihatan yang lain yaitu seperi sopir dari MM (Mergan – Mulyorejo), dan AJG (Arjosari – Janti – Gadang). Saya tidak tahu apakah mereka juga akan ikut bergabung pada siang harinya.

Pemicu demo yang dilakukan oleh supir angkutan kota ini, karena masalah berebut penumpang dengan kendaraan umum yang berbasis on line. Memang di Kota Malang sendiri, untuk Go Jek sudah beroperasi sekitar setahun ini, dan saya lihat bahwa tidak banyak penolakan akan kehadiran dari ojek on line ini di Malang Raya. Karena saya dengar bahwa jam operasional Go Jek, lebih banyak dilakukan pada saat pagi hari dan malam hari, yaitu pada saat jam operasional dari mikrolet sudah mulai berkurang.

Tetapi baru-baru ini, mungkin setelah tahun baru kemarin, bahwa di Malang mulai masuk perusahan angkutan berbasis on lien yang lain. Tetapi kali ini kendaraan on linenya berupa taxi, dan saya dengar bahwa perusahaan taxi on line tersebut adalah Grap taxi.

Sebenarnya saya sudah banyak mendengar desas-desus tentang keberadaan taxi on line ini di Malang sejak hari Kamis yang lalu. Karena semenjak hari Kamis itu, setiap pagi di Stasiun Kota Malang selalu dijaga oleh sopir mikrolet, jadi hari Jum’at dan hari Sabtu saya selalu mendengar bahwa ada pengusiran sopir taxi on line dari kawasan Stasiun Kota Baru. Karena itu maka, banyak pengguna taxi on line tersebut, yang harus berjalan cukup jauh ke arah kantor DPRD Kota Malang, untuk naik taxi on linenya.

Salah satu keluhan terbesar yang saya dengar dari para sopir mikrolet ini, misalnya jika ada enam orang penumpang yang ingin pergi ke Alun-alun Kabupaten Malang, maka jika mereka naik mikrolet biayanya adalah Rp 4.000 – Rp 5.000/orang, jadi total yang harus dibayar mereka yaitu Rp 24.000 – Rp 30.000/sekali jalan. Tetapi jika mereka menggunakan taxi online, maka biayanya hanya Rp 10.000/sekali jalan. Karena perbedaan biaya yang cukup besar itulah, maka sepertinya mikrolet menjadi kalah bersaing.

Lagi pula, sudah beberapa bulan ini para sopir mikrolet di Malang, seperti tidak terkontrol. Karena mereka senang menarik ongkos yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, kepada para penumpangnya. Karena di Kota Malang, jauh – dekat biayanya mikrolet adalah Rp 4.000. Tetapi ada beberapa supir yang menarik biaya lebih dari itu. Karena saya sering ditarik Rp 5.000 / sekali jalan, dan mama saya kemarin ditarik Rp 10.000 / sekali jalan.

Belum lagi kami juga mengamati bahwa ada orang yang berasal dari luar kota yang sampai ditarik ongkos Rp 15.000 / sekali jalan, tetapi karena mereka adalah orang luar kota, maka sepertinya mereka tidak mengerti, dan cuek saja. Tetapi kami yang warga sini, merasa kasihan dengan perlakuan yang diterima mereka. Mikrolet yang sering melakukan hal seperti ini adalah mikrolet jurusan AMG, untuk jurusan lain saya rasa masih cukup aman dan belum banyak yang melakukan kecurangan seperti itu.

Karena suasana demo ini sudah semakin ramai pada pukul 7 pagi, dan karena saya takut jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diingingkan, maka saya memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu, dan pulang. Tetapi sepanjang jalan pulang itu saya melihat banyak sekali penumpang yang terlantar, mulai dari anak sekolah, anak kuliahan, pekerja kantoran, bahkan warga umum.

Nampaknya pada saat demo ini berlangsung masih ada beberapa supir mikrolet yang mencoba untuk membawa penumpang, tetapi karena dihadang oleh teman-teman sopir yang lainnya, maka banyak penumpang di dalam mikrolet tersebut yang akhirnya diturunkan dengan paksa di dekat lokasi demo. Saya melihat, bahwa banyak dari mereka yang sudah terlambat dengan adanya kejadian ini.

Jika, menurut saya pribadi, bahwa aksi demo seperti ini, tidak akan pernah membawa solusi apapun, kepada para sopir angkot itu sendiri. Karena yang mereka hadapi adalah orang-orang yang menjual pelayanan. Sementara pelayanan yang supir angkot ini berikan, saat ini lebih sering terasa sangat buruk, jadi secara hukum alam saya yakin bahwa meskipun harganya lebih mahal, tetapi konsumen akan lebih memilih untuk menggunakan transportasi yang lebih baik pelayanannya.

Dan sampai sekarang saya melihat, bahwa para sopir angkot ini tetap lebih suka untuk menyalahkan orang lain atas keadaan mereka, dibandingkan dengan mawas diri akan kondisi yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri tersebut.

Tulis balasan...