D’Keik Bakery & Cafe

Pada minggu malam kemarin saya dan teman – teman kongkow di D’Keik yang dari namanya sudah jelas memiliki fokus di kue dan roti. Tapi sebenarnya ada makanan lain kok seperti nasi, ayam, gurami, dan banyak lagi. Tidak hapal menunya. Disini saya malah akan membahas menu yang tidak berhubungan dengan namanya karena sekaligus ingin mencicipi masakannya.

Lokasinya di jalan raya Langsep nomor 62, dekat dengan gereja jadi pelan – pelan saja kalau sudah di daerah tersebut. Suasananya sendiri sangat nyaman untuk digunakan tempat nongkrong. Kalau di lantai 1 akan ditemani aroma manis karena toko kue dan rotinya dalam satu ruangan, di lantai 2-nya baru agak segar. Sama – sama nyamannya kok.

Sebenarnya saat saya membuka menunya mengira makanan yang ditawarkan adalah asal barat (Eropa atau Amerika) seperti Bolognaise, Lasagna, atau Spaghetti ternyata ada masakan tradisional. Nah… karena kebetulan saya dan teman saya lapar sehabis bermain badminton ingin mencoba Sup Buntut yang sudah lama tidak merasakannya lagi. Ada 2 pilihannya, sup buntut biasa atau sup buntut goreng harganya 35 ribu.

Sambil menanti kita juga memesan snack jamur enoki asin pedas, cukup enak aslinya tapi kurang banyak. Haha :D. Minumannya sendiri agak heran saya termasuk murah dan isinya cukup banyak kalau dibandingkan cafe – cafe lain. Teman saya memesan Rastafarian yang entah apa isinya rasanya mirip permen Sugus tuti fruti dan saya memesan Ginger Coke (cuma 9 ribu) yang dibuat dari… Coca Cola dicampur Jahe. Hehe. Tidak ada kekurangan kalau anda tahu yang anda pesan, ini saya iseng mencoba saja.

Dan… akhirnya makanan utama datang. Sup buntut yang biasa maka dagingnya dimasukkan dalam mangkok menadi satu dengan supnya, sedangkan yang goreng akan digoreng dulu dengan tepung dan dipisahkan dalam piring. Pertama yang saya rasakan adalah kuahnya dan… ya… sup sayur biasa di lidah saya, ini belum memasukkan buntut yang digoreng tadi. Akhirnya saya masukkan semuanya dan saya tunggu beberapa saat supaya merasuk kuahnya. Saya sekalian mencicipi sup buntut biasa yang dipesan teman saya dan tampaknya lebih enak yang biasa.

Kembali lagi saya memakan sup buntut goreng tadi setelah direndam kuahnya dan ternyata kalah rasanya sama yang biasa, seperti makan empal goreng dan tidak ada rasa khasnya dari sup buntut yang saya ingat. Teman saya yang akhirnya ikut membandingkan juga sepakat. Walaupun pada akhirnya kami juga sepakat kalau sup buntutnya sendiri rasanya kok tidak sesuai harapan. Setidaknya kenyang lah, cukup banyak kok isinya dan porsi nasi putihnya.

Kesimpulannya kecewa sih tidak tapi cuma biasa saja tidak ada lebihnya atau khasnya untuk menu ini. Tapi minumannya enak lho. 😀 Tempatnya juga bagus, tenang dan nyaman dibuat ngobrol lama – lama. Mungkin lain kali sekalian mencoba menu yang sesuai namanya yaitu cake, siapa tahu ini andalannya dan saya salah memilih.

Tulis balasan...